BPPB di Forum Dunia: Indonesia Ikut Menentukan Arah Pengujian Vaksin Polio Masa Depan

08-12-2025 Umum Dilihat 72 kali

Bukan hanya sebagai pengguna vaksin, Indonesia kini turut menjadi bagian dari penentu arah pengujian vaksin dunia. Hal ini tercermin dari keikutsertaan Balai Pengujian Produk Biologi (BPPB) Badan POM Republik Indonesia dalam International Meeting on Quality Control Assays for Polio Vaccines yang berlangsung di Bangkok, Thailand, pada 3–5 September 2025. Dalam forum tersebut, BPPB diwakili oleh Yola Eka Erwinda, S.Si., M.Biotech dan Dra. Wiwik Ambarwati, M.Epid, yang secara aktif berpartisipasi dalam diskusi ilmiah dan teknis bersama para regulator, akademisi, serta pelaku industri vaksin dunia. Partisipasi ini menunjukkan peran strategis Indonesia dalam mendorong inovasi sekaligus memperkuat sistem pengawasan mutu vaksin di tingkat global.

Pertemuan internasional ini diselenggarakan oleh PATH bekerja sama dengan WHO, MHRA (Inggris), dan Gates Foundation sebagai respons terhadap kebutuhan mendesak untuk memperbarui dan menyelaraskan metode pengujian vaksin polio di seluruh dunia. Forum ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan penting, termasuk regulator seperti BPPB – BPOM (Indonesia), MHRA (Britania Raya), Health Canada (Kanada), China CDC (Cina); pelaku industri vaksin seperti PT Bio Farma (Indonesia), Biological E (India), CanSino Biologics, dan Bharat Biotech; serta kalangan akademisi dari institusi ternama seperti George Washington University dan Tulane University.  Pertemuan ini bertujuan untuk membahas transisi metode uji tradisional menuju pendekatan yang lebih modern, efisien, dan beretika dalam memastikan mutu vaksin polio.

Salah satu pokok bahasan utama dalam pertemuan ini adalah pemanfaatan High-Throughput Sequencing (HTS) atau Next-Generation Sequencing (NGS) sebagai metode alternatif untuk menggantikan uji neurovirulensi pada hewan yang telah digunakan selama puluhan tahun. Studi kolaboratif WHO yang diseminasi dalam pertemuan ini menunjukkan bahwa uji berbasis hewan sebenarnya tidak secara langsung berkorelasi dengan keamanan vaksin pada manusia, karena lebih berfungsi sebagai uji konsistensi produk. Sebaliknya, teknologi NGS mampu memetakan seluruh genom virus vaksin dan mendeteksi mutasi secara lebih rinci, cepat, dan akurat. Bahkan sejak 2019 hingga 2022, WHO telah menyetujui penggunaan HTS sebagai alternatif pengujian untuk beberapa jenis vaksin polio, termasuk OPV dan nOPV, dan kini sedang dalam proses pengembangan standar internasional agar metode ini dapat diadopsi secara luas untuk routine lot release.

Pada kesempatan tersebut, Yola Eka Erwinda menyampaikan presentasi berjudul “Regulatory Preparedness for Next-Generation Sequencing: Roadmap, Challenges, and Future Potential in Vaccine Lot Release”. Dalam paparannya, ia menjelaskan langkah-langkah yang telah ditempuh Badan POM, khususnya BPPB, dalam memperkuat kesiapan regulatori untuk penerapan NGS dalam pengujian vaksin polio. Pengalaman Indonesia dalam pemanfaatan NGS selama pandemi COVID-19, penelitian rotavirus, dan pengujian nOPV2 telah menjadi landasan penting. Selain itu, proses digitalisasi sistem lot release yang telah dilakukan sejak 2024, pelaksanaan berbagai pelatihan teknis, penyusunan SOP yang sejalan dengan pedoman WHO, serta investasi pada peralatan mutakhir menunjukkan keseriusan Indonesia dalam mengadopsi teknologi pengujian generasi baru ini.

Tidak kalah penting, para peserta juga menekankan perlunya harmonisasi standar internasional, ketersediaan reagen dan antibodi universal, serta dukungan teknis bagi negara-negara dalam mengembangkan metode uji di laboratorium masing-masing. Diskusi ini memperkuat komitmen global terhadap prinsip 3Rs bahkan menuju konsep replacement untuk menggantikan uji pada hewan dalam pengujian mutu vaksin. Dalam konteks ini, posisi Indonesia melalui BPPB dipandang strategis, karena selain memiliki pengalaman, juga aktif menyuarakan pentingnya penguatan kapasitas laboratorium nasional dan kesiapan kebijakan untuk menyambut perubahan standar global.

Keikutsertaan BPPB dalam pertemuan internasional ini memberikan manfaat langsung bagi Indonesia. Pengetahuan dan jejaring yang diperoleh akan memperkuat sistem pengawasan vaksin di dalam negeri, mempercepat adopsi metode pengujian modern, serta meningkatkan kapasitas sumber daya manusia laboratorium. Pada akhirnya, semua upaya ini bermuara pada satu tujuan utama: melindungi kesehatan masyarakat Indonesia melalui jaminan bahwa setiap vaksin polio yang digunakan telah melalui pengujian yang andal, aman, dan berstandar internasional.

Melalui partisipasi aktif di forum global, BPPB tidak hanya memperkuat posisi Indonesia di tingkat internasional, tetapi juga menegaskan komitmennya sebagai garda terdepan dalam menjaga mutu produk biologi dan mendukung masa depan dunia yang bebas polio.

Penulis : Yola Eka Erwinda

Sarana