Forum Konsultasi Publik 2026 sebagai Sarana Aspirasi dan Evaluasi Pelayanan

10-03-2026 Umum Dilihat 28 kali

 

Forum Konsultasi Publik (FKP) tahun 2026 bukan sekadar agenda rutin. Ini adalah wujud nyata dari prinsip kolaborasi yang menjadi salah satu nilai inti BerAKHLAK: bahwa pelayanan publik yang prima tidak bisa dibangun sendirian, melainkan harus dibangun bersama, baik bersama pengguna, bersama stakeholder, dan bersama sesama unit yang berjalan dalam tujuan yang sama.

Dibawah koordinasi Pusat Pengembangan Pengujian Obat dan Makanan Nasional (PPPOMN), tiga Unit Pelaksana Teknis (UPT) mempresentasikan standar pelayanan mereka dalam satu forum terpadu: Balai Pengujian Produk Biologi (BPPB), Balai Pengujian Khusus Obat dan Makanan (BPKOM), dan Balai Kalibrasi. Tema yang diusung “Memperkuat Sinergi untuk Pelayanan Publik yang Adaptif, Terintegrasi, dan Berkelanjutan”.

 

BPPB

BPKOM

Balai Kalibrasi

PPPOMN

Balai Pengujian Produk Biologi

Balai Pengujian Khusus Obat dan Makanan

Balai Kalibrasi

Pusat Pengembangan Pengujian Obat dan Makanan Nasional

Layanan Hewan Uji, Pengujian Produk Biologi & Toksikologi, Pelulusan Batch/Lot Vaksin, Uji Profisiensi, Pelatihan Teknis Lab

Pengujian khusus obat dan makanan

Layanan kalibrasi instrumen laboratorium bagi UPT BPOM dan industri

Layanan baku pembanding kimia dan mikroba, Uji Profisiensi, Pelatihan Teknis Lab

 

Tabel 1. Jenis Layanan dari PPPOMN dan Tiga UPT PPPOMN yang Bersinergi dalam FKP 2026

 

Kolaborasi ini memiliki makna strategis yang melampaui efisiensi administratif. Ketiga unit ini sesungguhnya membentuk sebuah ekosistem pengujian yang saling bergantung: BPKOM menguji bahan kimia dan obat, BPPB menguji dan melakukan pelulusan bets produk biologi, dan Balai Kalibrasi memastikan bahwa seluruh instrumen yang digunakan keduanya memberikan pengukuran yang akurat dan tertelusur. Ketika ketiganya berdiri bersama di hadapan publik dalam satu forum, pesan yang tersampaikan adalah pesan tentang integritas ekosistem, bukan hanya karena daam satu Lembaga/ instansi yang sama.

“Kegiatan ini merupakan wadah diskusi dan evaluasi untuk memastikan layanan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan serta harapan para pemangku kepentingan.”

Kepala PPPOMN, dalam Pembukaan FKP 2026

 

Sorotan BPPB: Ketika Angka 93,29 Menjadi Tolak Ukur

Dari keseluruhan sesi FKP, paparan Kepala Balai Pengujian Produk Biologi menjadi salah satu yang membawa pesan substantif. Ibu Dwi Damayanti membuka dengan sebuah angka yang bagi banyak institusi pemerintah akan menjadi bahan kebanggaan, namun ia justru mempresentasikannya sebagai bahan refleksi.

Hasil Survei Kepuasan Masyarakat (SKM) BPPB tahun 2025 mencapai 93,29 hal tersebut meningkat dari 91,55 pada tahun 2024. Angka ini berada di kategori '“Sangat Baik”, namun yang membuat pemaparannya berbeda adalah apa yang ia sampaikan setelahnya: bukan pujian atas pencapaian itu, melainkan pengakuan jujur atas kekurangan yang masih ada, dan komitmen konkret atas tindak lanjut yang telah dan akan dilakukan.

 

Indikator Layanan

Nilai SKM 2024

Nilai SKM 2025

Tren

Survei Kepuasan Masyarakat (SKM) BPPB

91,55

93,29

▲ +1,74 poin

Jumlah Konsultasi diterima (2025)

64 konsultasi

✓ Seluruhnya selesai

Jumlah Pengaduan diterima (2025)

1 pengaduan

✓ Ditindaklanjuti

Status tindak lanjut FKP 2025

3 dari 3 isu terselesaikan

✓ 100%

 

Tabel 2. Kinerja Layanan BPPB 2025 — Data yang Dipresentasikan dalam FKP 2026

 

Komitmen Tahun Lalu, Bukti Tahun Ini: Tindak Lanjut FKP 2025

Salah satu aspek paling berbobot dari paparan yang disampaikan adalah laporan tindak lanjut atas masukan yang diberikan dalam FKP tahun 2025. Tiga isu utama yang diangkat publik pada forum sebelumnya, seluruhnya telah diselesaikan:

ISU 1:  Layanan hewan uji terkendala dan tidak tersedia di INFALABS akibat efisiensi anggaran

Tindak lanjut: Layanan hewan uji dibuka kembali dan jumlahnya ditingkatkan sepanjang 2025.

 

ISU 2:  Template surat pemesanan hewan uji tidak tersedia di sistem

Tindak lanjut: Template kini tersedia di INFALABS pada bagian FAQs Layanan Hewan Uji, lengkap dengan buku petunjuk pembelian.

 

ISU 3:  Sertifikat pelulusan vaksin memerlukan waktu lama untuk diakses dan diunduh

Tindak lanjut: Pengembangan aplikasi Bio-Legacy dengan fasilitas surat pengantar otomatis, dikerjakan bersama Pusat Data dan Informasi Obat dan Makanan (Pusdatin) BPOM.

 

Pola ini mengangkat masalah secara terbuka, berkomitmen untuk menyelesaikannya, dan melaporkan hasilnya di forum berikutnya adalah definisi operasional dari akuntabilitas. Bukan dokumen tertutup yang tersimpan di lemari arsip, melainkan komitmen yang diucapkan di depan publik dan dibuktikan di hadapan publik yang sama.

Standar Pelayanan 2026: Sebuah Restrukturisasi Substantif

Inti dari FKP adalah paparan dan diskusi publik atas rancangan Standar Pelayanan Publik (SPP) BPPB 2026 yang akan menggantikan SPP 2025. Perubahan yang dibawa bukan sekadar pembaruan tata bahasa atau penyesuaian tanggal. Ini merupakan restrukturisasi yang merefleksikan perkembangan nyata dalam kapasitas, teknologi, dan pemahaman BPPB tentang kebutuhan stakeholdernya.

 

Aspek Perubahan

SPP 2025

SPP 2026 (Baru)

Nomenklatur Pengujian

Layanan Pengujian Obat dan Makanan

Layanan Pengujian Produk Biologi dan Toksikologi

Nomenklatur Uji Profisiensi

Layanan Uji Profisiensi

Layanan Uji Profisiensi Endotoksin

Jalur Pengujian SIPT

1 jalur: pihak ketiga non-vaksin saja

2 jalur: (1) Post-market surveillance via SIPT UPT; (2) Pihak ketiga (kepolisian & non-kepolisian) via SIPT Pihak Ketiga

Timeline Pengujian

5–90 hari kerja (generik)

10–79 hari (berdasarkan parameter uji kritis/lengkap, dirinci per jenis vaksin)

Layanan Lot Release Vaksin

Tidak tercantum dalam SPP

Tercantum lengkap: alur vaksin produksi dalam negeri dan impor, mekanisme clock-on/clock-off, tabel timeline per produk

Jam Layanan Tatap Muka

Senin–Kamis, 09.00–15.30 WIB

Senin–Kamis, 08.30–15.00 WIB (tanpa istirahat); loket G1 Gedung Athena

 

Tabel 3. Perubahan Substantif Standar Pelayanan Publik BPPB: dari SPP 2025 ke SPP 2026

 

Perubahan yang paling signifikan secara teknis adalah formalisasi layanan Pelulusan Batch/Lot Vaksin dalam standar pelayanan resmi. Untuk pertama kalinya, setiap tahapan dalam proses sertifikasi vaksin dimulai dari pengajuan sampel non-label, pengujian paralel antara industri dan BPPB, hingga evaluasi dokumen dan penerbitan sertifikat kini memiliki timeline yang tertuang secara eksplisit dalam dokumen standar pelayanan yang bisa diakses dan dipahami publik.

🔍  Deep Dive: Lima Layanan Resmi BPPB dalam SPP 2026

1.  Layanan Penyediaan Hewan Uji — mencit galur ddY, tikus galur Sprague Dawley, kelinci Japanese White; diakses via INFALABS (infalabs.pom.go.id); jangka waktu 10 hari.

2.  Layanan Pengujian Produk Biologi dan Toksikologi — 2 jalur: SIPT UPT (internal BPOM) dan SIPT Pihak Ketiga (kepolisian & non-kepolisian); timeline 10–79 hari tergantung jenis vaksin.

3.  Layanan Pelulusan Batch/Lot Vaksin — diakses via Bio-Legacy (sikumbang.pom.go.id/lotrelease); dua skema: vaksin produksi dalam negeri dan vaksin impor; evaluasi dokumen 3–7 hari, pengujian 30–84 hari.

4.  Layanan Uji Profisiensi Endotoksin — via INFALABS; 55 hari; terbuka untuk internal BPOM, industri, akademisi, dan lab swasta.

5.  Layanan Pelatihan Teknis Laboratorium — uji vaksin in vitro/in vivo, endotoksin kuantitatif/semikuantitatif, lot release vaksin; via INFALABS; terbuka juga untuk institusi negara lain yang memiliki MoU dengan BPOM.

Seluruh layanan mengacu pada: PMK No. 73/2024, Keputusan Kepala BPOM No. 489/2024, dan PerBPOM No. 2 Tahun 2025 tentang Pelulusan Batch/Lot Vaksin.

 

Suara dari Lingkungan: Diskusi yang Melahirkan Kepastian

FKP bukan hanya tentang paparan satu arah. Sesi diskusi yang berlangsung setelah pemaparan standar pelayanan menghadirkan momen-momen yang otentik: pertanyaan dari pengguna yang menerima layanan BPPB, dan respons langsung dari Kepala BPPB yang terbuka.

Suara Akademisi: Kejujuran tentang Hewan Uji

Prof. Fransiscus dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menyampaikan sesuatu yang tidak mudah diucapkan di ruang publik: kekhawatiran ilmiah yang berbasis data. Dari hasil pemeriksaan histopatologi yang dilakukan secara mandiri oleh laboratorium FK UI dalam beberapa waktu belakangan, ditemukan adanya infestasi parasit Fasciola hepatica pada hewan coba yang diterima dari BPPB. Ia juga mencatat bahwa bobot hewan yang diterima sering kali lebih kecil dari yang dipesan.

Pertanyaan Prof. Fransiscus bukanlah tuduhan. Ia sendiri mengakui ketidakpastian mengenai sumber apakah berasal dari BPPB atau berkembang setelah pemeliharaan beberapa bulan di laboratorium FK UI. Namun justru di sinilah nilai dari forum publik: pertanyaan yang tidak nyaman mendapat tempat untuk diajukan, dan institusi yang dimintai pertanggungjawaban merespons dengan fakta, bukan retorika.

Ibu Dwi Damayanti merespons dengan transparansi penuh: BPPB telah melakukan monitoring kesehatan hewan setiap tiga bulan, dan secara makroskopis tidak teramati adanya kelainan. Namun ia juga mengakui bahwa akibat kebijakan efisiensi anggaran 2025, pemeriksaan histopatologi belum dapat dilakukan. Atas keluhan ini, drh. Fitra Yovita D. spesialis hewan BPPB menegaskan komitmen untuk investigasi lebih lanjut. Keputusan untuk menambahkan program pemberian obat cacing dan pemeriksaan histopatologi berkala sebagai salah satu tindaklanjut kemudian dituangkan secara resmi dalam Berita Acara FKP 2026.

“Walaupun percepatan kami lakukan, namun proses pelulusan bets tetap berjalan sebagaimana dipersyaratkan pada WHO Requirements dan Peraturan BPOM No. 2 Tahun 2025. Evaluasi tidak hanya sekadar memastikan dokumen lengkap.” — Ibu Dwi Damayanti — Kepala BPPB, merespons apresiasi dari PT Biotis

Suara Industri: Apresiasi yang Lahir dari Kepercayaan

Agnes dari PT Biotis Pharmaceuticals Indonesia membawa perspektif yang berbeda. Ia tidak datang dengan keluhan, melainkan dengan apresiasi yang tidak ringan bobotnya: selama 2025, PT Biotis sangat terbantu oleh kapasitas BPPB dalam mengakselerasi proses lot release vaksin khususnya di akhir tahun, sebuah periode yang oleh industri yang menyuplai vaksin untuk program nasional dikenal sebagai masa paling kritis dalam siklus produksi dan distribusi.

Apresiasi ini memiliki konteks yang perlu dipahami. Di akhir tahun 2025, volume permohonan lot release yang masuk ke BPPB jauh melampaui standar layanan normal. Setiap bets vaksin yang telah diproduksi memerlukan sertifikat pelulusan dari BPPB sebelum bisa didistribusikan ke fasilitas kesehatan di seluruh Indonesia. Keterlambatan satu hari dalam proses ini berarti ribuan atau bahkan jutaan dosis vaksin yang terhenti di gudang sementara program imunisasi menunggu.

Bahwa BPPB berhasil menyelesaikan percepatan itu tanpa mengorbankan standar layanan adalah pencapaian yang tidak tertangkap dalam statistik rutin, namun terasa langsung oleh industri dan pada akhirnya oleh seluruh sistem kesehatan nasional.

Dari Diskusi Menjadi Komitmen: Sebuah Berita Acara

Tidak semua forum konsultasi menghasilkan sesuatu yang konkret. FKP BPPB 2026 mengakhiri sesinya dengan sebuah dokumen yang mengikat secara administratif: Berita Acara Peninjauan Ulang Standar Pelayanan. Dokumen ini ditandatangani oleh tujuh perwakilan dari berbagai pemangku kepentingan.

 

Penandatangan Berita Acara FKP BPPB — 9 Maret 2026

  apt. Dra. Harpolia Cartika, M.Farm — Politeknik Kesehatan Farmasi (Akademisi)

  Dody Suryawan — Media Disway.id (Media Massa)

  Syahri Suyanto, S.Farm — Kepala Lurah Johar Baru (Tokoh Masyarakat)

  Komisaris Polisi Khoirudin, S.H., M.H — Direktorat Tipidter Bareskrim Polri (Kementerian/Instansi)

  Shenna Ayuningtyas — PT. Saraswanti Indo Genetech (Pengguna Layanan)

  Dwi Rahmah Putri, A.Md — Perwakilan Kelompok Rentan/Inklusif

  Sukiswanto — Masyarakat Metrologi Indonesia (Organisasi Masyarakat)

 

Komitmen yang tertuang dalam Berita Acara mencakup dua hal utama terkait layanan hewan uji: pertama, optimalisasi anggaran untuk peningkatan pemeliharaan hewan uji; kedua, pelaksanaan program monitoring kesehatan hewan. Keduanya akan dilaksanakan sepanjang tahun 2026.

Yang penting dicatat adalah tujuh penandatangan tersebut mewakili setiap komponen di masyarakat. Dari akademisi, media massa, tokoh masyarakat, aparat penegak hukum, pengguna layanan, kelompok rentan, hingga organisasi kemasyarakatan. BPPB memastikan bahwa setiap segmen masyarakat yang berpotensi tersentuh oleh layanannya memiliki suara yang didengar dan tangan yang menandatangani komitmen bersama.

 

Key Takeaways — FKP BPPB 2026 dalam Satu Halaman

  FKP diselenggarakan bersamaan dengan BPKOM dan Balai Kalibrasi di bawah koordinasi PPPOMN untuk mewujudkan sinergi antar unit kerja dalam satu forum terpadu.

  SKM BPPB 2025 mencapai 93,29  meningkat dari 91,55 (2024), namun dijadikan titik tolak perbaikan, bukan titik puncak kepuasan.

  Seluruh tiga isu yang diangkat dalam FKP 2025 telah ditindaklanjuti: hewan uji, template pemesanan, dan perbaikan sistem sertifikat lot release.

  SPP 2026 membawa 6 perubahan substantif, termasuk formalisasi layanan lot release vaksin dengan timeline rinci per produk untuk pertama kalinya.

  Isu Fasciola hepatica dari FK UI dijawab dengan transparansi dan komitmen investigasi histopatologi berkala dan dicatat resmi dalam Berita Acara.

  PT Biotis mengapresiasi kemampuan BPPB mengakselerasi lot release tanpa mengorbankan standar layanan mengonfirmasi integritas proses di atas tekanan.

  Berita Acara ditandatangani oleh 7 perwakilan lintas sektor: akademisi, media, tokoh masyarakat, Polri, pengguna layanan, kelompok rentan, dan ormas.

  Tarif PNBP lot release vaksin (tidak berubah sejak 2017) sedang dalam kajian bersama Kemenkeu dan uji publik persepsi tarif akan segera dilaksanakan.

 

Di Balik Standar Pelayanan: Sebuah Kontrak dengan Bangsa

Ada sebuah paradoks yang menarik di forum seperti ini. Dokumen yang dipresentasikan standar pelayanan, timeline pengujian, tabel biaya PNBP tampak teknis. Namun di balik setiap baris tabel itu tersimpan sesuatu yang sangat manusiawi.

Setiap vaksin yang melewati proses lot release BPPB dan keluar dengan sertifikat pelulusan adalah vaksin yang boleh diedarkan ke puskesmas, rumah sakit, dan pos imunisasi di seluruh Indonesia. Setiap hewan uji yang sehat dan berbobot ideal yang dipesan oleh akademisi adalah hewan yang akan digunakan dalam penelitian yang mungkin akan menyelamatkan nyawa di masa depan. Setiap parameter waktu pengujian yang sekarang tercantum transparan dalam SPP 2026 adalah kepastian yang diberikan kepada industri, dan pada akhirnya kepada Masyarakat yang menunggu.

Forum Konsultasi Publik bukan sekadar kewajiban regulasi berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik. Forum ini adalah mekanisme di mana sebuah institusi negara memilih untuk terbuka dan transparan, dengan mengundang masyarakat untuk memberikan input. Dimana hal ini merupakan sebuah perwujudan pembangunan integritas.

Oleh: Tim Redaksi BPPB  |  Jakarta, 9 Maret 2026  |  Kategori: Pelayanan Publik & Zona Integritas

 

Sarana