Peran BPPB dalam Menjaga Keamanan Vaksin Dunia

05-12-2025 Umum Dilihat 60 kali

Pernahkah kita bertanya bagaimana sebuah vaksin dinyatakan aman sebelum diberikan kepada jutaan orang? Di balik setiap dosis yang sampai ke masyarakat, terdapat proses pengujian ketat yang melibatkan para ahli dari berbagai penjuru dunia. Pada 26–28 November 2025, Balai Pengujian Produk Biologi (BPPB) Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia turut ambil bagian dalam upaya global tersebut melalui keikutsertaannya pada The 7th Annual Meeting of the WHO National Control Laboratory (NCL) Network for Biologicals yang diselenggarakan di WHO Academy, Lyon, Prancis.

Pertemuan tahunan ini mempertemukan para ilmuwan, regulator, dan tenaga ahli dari berbagai negara yang memiliki tanggung jawab penting dalam memastikan mutu, keamanan, dan khasiat vaksin serta produk biologi lainnya. Dalam forum ini, para peserta berbagi pengalaman, mendiskusikan tantangan terkini, serta merumuskan langkah-langkah bersama untuk memperkuat sistem pengawasan produk biologi di tingkat global.

Keikutsertaan BPPB dalam forum internasional ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya menjadi pengguna produk biologi, tetapi juga berperan aktif dalam membentuk standar dan praktik terbaik di tingkat dunia. BPPB hadir bukan sekadar sebagai peserta, melainkan sebagai kontributor yang terlibat langsung dalam berbagai sesi diskusi strategis.

Kepala BPPB, Dwi Damyanti, S.Si., Apt., M.Farm, hadir secara langsung sejak hari pertama dan berpartisipasi aktif dalam berbagai diskusi bersama perwakilan dari negara lain. Beliau juga dipercaya sebagai panelis dan moderator pada beberapa sesi, mencerminkan pengakuan atas kompetensi Indonesia di bidang pengujian produk biologi. Pada sesi tertutup khusus anggota WHO NCL tanggal 28 November 2025, beliau menyampaikan presentasi berjudul “Implementation of OOS in Biological Product Testing” yang membahas pendekatan Indonesia dalam menangani hasil uji di luar spesifikasi (Out of Specification/OOS) secara sistematis, transparan, dan berbasis bukti ilmiah.

Kontribusi BPPB juga ditunjukkan melalui presentasi daring oleh Yola Eka Erwinda, S.Si., M.Biotech, Senior Laboratory Officer BPPB, dengan tema “Integrating the 3Rs Framework to Enhance Efficiency and Animal Welfare in Biological Products Laboratory”. Dalam paparannya, disampaikan bahwa BPPB telah mengadopsi prinsip Replacement, Reduction, dan Refinement (3Rs), antara lain melalui uji coba Monocyte Activation Test (MAT) sebagai pengganti uji pirogen menggunakan kelinci, serta penggunaan reagen rCR (Recombinant Cascade Reagent) sebagai alternatif non-hewani untuk uji endotoksin. Langkah ini mencerminkan komitmen BPPB terhadap pengujian yang lebih etis, efisien, dan sejalan dengan standar internasional, tanpa mengurangi mutu hasil pengujian.

Bagi Indonesia, keikutsertaan dalam jejaring global ini memberikan manfaat nyata. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh akan memperkuat sistem pengujian di dalam negeri, meningkatkan kompetensi sumber daya manusia, serta mendukung penyempurnaan standar dan kebijakan pengawasan produk biologi. Dengan demikian, masyarakat Indonesia mendapatkan perlindungan yang lebih kuat melalui jaminan bahwa produk biologi yang digunakan telah melewati evaluasi dan pengujian yang kredibel dan berstandar internasional.

Melalui peran aktif di tingkat global, BPPB terus membangun kepercayaan publik serta memperkuat posisinya sebagai penjaga mutu produk biologi Indonesia, sekaligus sebagai bagian dari upaya dunia dalam menciptakan sistem kesehatan yang lebih aman dan berkelanjutan.

Penulis : Yola Eka Erwinda

Sarana